DPR seharusnya adalah salah satu lembaga yang mengedepankan opini rakyat. Namun selama beberapa tahun ini para anggota Dewan yang terhormat ternyata lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang kepentingan "wong cilik".
Coba kita simak berita ini :
"Setelah usulan dana aspirasi dan dana desa kandas, kali ini Dewan
Perwakilan Rakyat kembali menyodorkan proposal program baru untuk
membangun “rumah aspirasi”. Kalau disetujui, nantinya tiap anggota akan
kebagian jatah Rp 200 juta per tahun.
Uang sebanyak itu dianggarkan untuk menyewa kantor di daerah pemilihan
masing-masing anggota, menggaji staf, dan ongkos operasional selama
setahun. Artinya, dikalikan 560 anggota Dewan, seluruh dana yang
diperlukan adalah Rp 112 miliar.
Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) Pius Lustrilanang
menyatakan, pendirian rumah aspirasi ini bertujuan agar rakyat di daerah
bisa menyampaikan langsung aspirasi ke wakilnya. "Bujet disediakan dari
anggaran BURT terkait pembangunan sarana yang jumlahnya sekitar Rp 3,3
triliun, walau pemerintah baru menyetujui sekitar Rp 2,7 triliun," kata
Pius di kantornya, Jumat lalu. (Sumber : Tempo Interaktif / Agustus 2010)"
"Tak cuma sekali ini para wakil rakyat kita, yang baru dilantik pada 1
Oktober tahun lalu, mengajukan proposal yang dianggap berlebihan. Dari
berbagai kreativitas mengutak-atik program itu, ujungnya sama saja:
meminta tambahan anggaran. Berikut ini beberapa di antaranya:
Mei
- Komisi XI meminta hak untuk membagikan alokasi dana APBN Perubahan 2010 ke daerah pemilihan mereka.
- Anggaran: Rp 20-30 miliar per anggota Komisi IX, total Rp 2 triliun.
Juni
- Ide “dana aspirasi” digulirkan Partai Golkar, dengan alasan banyak konstituen yang meminta bantuan.
- Anggaran: Rp 15 miliar untuk setiap anggota Dewan. Artinya, untuk 560 anggota, total anggarannya Rp 8,4 triliun.
Juni
- Setelah dana aspirasi kandas, muncul gagasan “dana desa”.
- Anggaran: Rp 1 miliar per desa. Saat ini tercatat ada sekitar 71 ribu desa/kelurahan di Indonesia.
Akhir Juli
- Usul “rumah aspirasi” kembali digulirkan dengan format baru.
- Anggaran: Rp 200 juta per anggota per tahun. Totalnya sekitar Rp 112 miliar.
Permintaan aneh lainnya:
- Tambahan tenaga ahli untuk setiap anggota.
- Asuransi anggota Dewan. Biasanya Rp 27,2 miliar atau Rp 66 juta per orang per tahun.
- Gedung baru DPR. Anggaran: Rp 1,8 triliun.
Catatan: DPR mengajukan anggaran ke Badan Urusan Rumah Tangga sekitar Rp
3,3 triliun. Pemerintah baru menyetujui sekitar Rp 2,7 triliun.(Sumber : Tempo Interaktif)
Ketika rakyat miskin di negeri ini menderita, para wakil rakyat yang "terhormat" malah asyik masyuk menganggarkan segala sesuatu yang Ujung-Ujungnya Duit. Rakyat sebenarnya tidak keberatan jika para anggota dewan "BENAR - BENAR" bekerja untuk kepentingan rakyat.
Selasa, 15 Maret 2011
Senin, 14 Maret 2011
Lamborghini "Madura" , Ketika Nama Pulau di Indonesia Menjadi Inspirasi Dunia
Anda pastinya tahu mobil sporty mewah dari Lamborghini yang merupakan salah satu perusahaan mobil utama Italia dan juga merupakan induk dari Grup Volkswagen. Perusahaan ini berbasis di Sant’Agata Bolognese, Bologna, Italia. Didirikan tahun 1963 oleh Ferruccio Lamborghini (1916-1993).(wikipedia)
Kecintaan Ferruccio Lamborghini pada banteng memang sudah bukan rahasia lagi. Malahan identitas dasar produk Lamborghini memang selalu pada seputar binatang tangguh ini. Kini Indonesia bisa berbangga hati karena salah satu nama pulau di negeri ini diputuskan menjadi nama salah satu produk Lamborghini yang rencananya baru akan dilepas tahun 2016 mendatang. Ya, produk baru itu diberi nama Lamborghini Madura.
Sepanjang sejarah Lamborghini, nama-nama produk pabrikan asal Italia ini memang selalu berada di seputar binatang favorit Ferruccio Lamborghini yang konon juga berbintang Taurus. Miura adalah nama jenis banteng Spanyol yang biasanya digunakan untuk acara bullfighting oleh para matador sementara Espada adalah bahasa Spanyol untuk pedang yang juga mengacu pada matador sendiri. Tradisi itu berlanjut hingga Islero, Jarama, Urraco, Jalpa, Diablo, Murciélago, Gallardo, dan Reventón. Hanya ada dua nama dalam jajaran produk Lamborghini yang tidak mengikuti tradisi itu: Countach dan Silhouette.
Baru-baru ini Slavche Tanevsky, seorang mahasiswa di Universitas Munich Applied Sciences, membuat sebuah desain mobil Lamborghini dengan nama Madura. Kata Madura ini bukan lain adalah pulau di Indonesia yang memiliki budaya Karapan Sapi. Memang nama Lamborghini Madura ini diakarenakan terdapat jenis sapi atau banteng dari Madura yang kuat dan dapat berlari cepat yang digunakan untuk Karapan Sapi. Hal ini juga mirip dengan lambang Lamborghini yang berupa Banteng.
Sekilas, Lamborghini Madura ini memang mengingatkan pada Reventón, produk terakhir Lamborghini meski Madura ini terlihat lebih kekar dan agresif terutama bila dilihat dari depan. Desain lampu depan dibuat tipis dan terlihat bahwa yang ingin ditonjolkan justru adalah dua lubang udara yang ada di bawahnya. Dari samping, desain Madura ini terlihat bersih dan hanya menonjolkan bagian roda saja. Bila bagian samping dan depan terlihat bersih maka bagian belakang justru terlihat lebih ‘rumit’ karena penuh dengan sudut tajam dan kisi-kisi mirip pada Murcielago LP 640.
Yang menarik, Lamborghini sepertinya juga mulai ikut peduli pada lingkungan karena kabarnya Lamborghini Madura ini akan menjadi mobil hybrid pertama Lamborghini. Sejauh ini memang belum ada detail jelas dari dapur pacu yang akan dipasang namun sepertinya mesin V12 berkapasitas 6,5 liter yang terpasang pada Reventón tak akan dipergunakan pada mobil hybrid ini. Yang jelas, Slavche Tanevsky memastikan kalau Lamborghini Madura tetap akan membawa DNA produk Lamborghini sebelumnya. Artinya, ramah lingkungan dan hemat bahan bakar namun tetap andal dipakai kebut-kebutan.
Kecintaan Ferruccio Lamborghini pada banteng memang sudah bukan rahasia lagi. Malahan identitas dasar produk Lamborghini memang selalu pada seputar binatang tangguh ini. Kini Indonesia bisa berbangga hati karena salah satu nama pulau di negeri ini diputuskan menjadi nama salah satu produk Lamborghini yang rencananya baru akan dilepas tahun 2016 mendatang. Ya, produk baru itu diberi nama Lamborghini Madura.
Sepanjang sejarah Lamborghini, nama-nama produk pabrikan asal Italia ini memang selalu berada di seputar binatang favorit Ferruccio Lamborghini yang konon juga berbintang Taurus. Miura adalah nama jenis banteng Spanyol yang biasanya digunakan untuk acara bullfighting oleh para matador sementara Espada adalah bahasa Spanyol untuk pedang yang juga mengacu pada matador sendiri. Tradisi itu berlanjut hingga Islero, Jarama, Urraco, Jalpa, Diablo, Murciélago, Gallardo, dan Reventón. Hanya ada dua nama dalam jajaran produk Lamborghini yang tidak mengikuti tradisi itu: Countach dan Silhouette.
Baru-baru ini Slavche Tanevsky, seorang mahasiswa di Universitas Munich Applied Sciences, membuat sebuah desain mobil Lamborghini dengan nama Madura. Kata Madura ini bukan lain adalah pulau di Indonesia yang memiliki budaya Karapan Sapi. Memang nama Lamborghini Madura ini diakarenakan terdapat jenis sapi atau banteng dari Madura yang kuat dan dapat berlari cepat yang digunakan untuk Karapan Sapi. Hal ini juga mirip dengan lambang Lamborghini yang berupa Banteng.
Sekilas, Lamborghini Madura ini memang mengingatkan pada Reventón, produk terakhir Lamborghini meski Madura ini terlihat lebih kekar dan agresif terutama bila dilihat dari depan. Desain lampu depan dibuat tipis dan terlihat bahwa yang ingin ditonjolkan justru adalah dua lubang udara yang ada di bawahnya. Dari samping, desain Madura ini terlihat bersih dan hanya menonjolkan bagian roda saja. Bila bagian samping dan depan terlihat bersih maka bagian belakang justru terlihat lebih ‘rumit’ karena penuh dengan sudut tajam dan kisi-kisi mirip pada Murcielago LP 640.
Yang menarik, Lamborghini sepertinya juga mulai ikut peduli pada lingkungan karena kabarnya Lamborghini Madura ini akan menjadi mobil hybrid pertama Lamborghini. Sejauh ini memang belum ada detail jelas dari dapur pacu yang akan dipasang namun sepertinya mesin V12 berkapasitas 6,5 liter yang terpasang pada Reventón tak akan dipergunakan pada mobil hybrid ini. Yang jelas, Slavche Tanevsky memastikan kalau Lamborghini Madura tetap akan membawa DNA produk Lamborghini sebelumnya. Artinya, ramah lingkungan dan hemat bahan bakar namun tetap andal dipakai kebut-kebutan.
Minggu, 13 Maret 2011
5 Alasan Gagal Menjadi Entrepreneur
Banyaknya anggapan yang salah dari masyarakat tentang entrepreneur, menimbulkan berbagai ketakutan dan keraguan dalam diri mereka untuk memulai usaha. Anggapan-anggapan tersebut juga menurunkan motivasi masyarakat untuk menjadi seorang entrepreneur, sehingga sebagian besar orang mengubur impiannya menjadi entrepreneur sukses dan lebih memilih posisi aman dengan bekerja. Walaupun entrepreneur muda kini mulai bermunculan, namun masih banyak masyarakat yang selalu beranggapan bahwa membuka usaha itu sulit. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa pengusaha sukses biasanya juga berasal dari keluarga pengusaha, alias keahlian turun temurun. Tahukah Anda, bahwa hal seperti itulah yang menjadi kendala terbesar bagi diri Anda untuk memulai usaha. Agar tidak terjebak dengan anggapan salah yang bisa menghalangi kesuksesan Anda, mari kita lihat 5 alasan gagal menjadi entrepreneur yang sering membuat Anda takut.
Inilah beberapa anggapan salah masyarakat, yang menghambat Anda menjadi seorang entrepreneur :
1. Entrepreneur adalah keahlian turun-temurun.
Banyak orang beranggapan bahwa menjadi entrepreneur itu biasanya karena ada faktor keturunan. Karena mereka melihat banyak pengusaha yang sukses, merupakan anak atau saudara dari seorang entrepreneur juga. Padahal sebenarnya semua orang bisa menjadi seorang entrepreneur. Sebenarnya para pengusaha tersebut bisa sukses, karena mereka sudah terbiasa belajar bisnis sejak masih kecil. Bukan karena garis keturunan yang dimilikinya. Walaupun Anda bukan dari keluarga wirausaha, Anda juga bisa menjadi seorang entrepreneur sukses. Bila Anda memiliki tekad dan motivasi bisnis yang kuat.
2. Menjadi entrepreneur membutuhkan modal besar.
Modal usaha memang penting, tapi yang perlu diingat adalah tidak semua usaha membutuhkan modal besar. Banyak usaha yang dapat dimulai dengan modal kecil, seperti bisnis online, atau usaha rumahan dengan menjadi reseller produk. Kedua peluang usaha tersebut bisa dimulai dengan modal usaha yang relatif kecil, bahkan bisa dibilang usaha tanpa modal. Selain itu, modal uang juga bukan jaminan utama seorang entrepreneur bisa sukses. Masih ada modal lain yang dibutuhkan untuk menjadi seorang entrepreneur, seperti yang pernah kita bahas pada artikel “Apa saja kebutuhan modal untuk memulai usaha?” beberapa pekan yang lalu.
3. Entrepreneur bisa sukses, karena mendapat peluang bagus.
Keinginan seseorang untuk membuka usaha, sering terhambat karena mereka selalu berpikiran bahwa sebuah usaha bisa sukses karena adanya peluang bagus. Sehingga mereka hanya terus menunggu sampai peluang bagus itu datang menghampiri mereka. Padahal peluang usaha itu dicari, bukan hanya ditunggu. Peluang bagus itu sebenarnya berasal dari diri Anda sendiri, sebab peluang usaha bisa Anda ciptakan sendiri dari hobi maupun skill yang Anda miliki.
4. Entrepreneur merupakan bakat, dan tidak bisa dipelajari.
Jiwa wirausaha itu ada, bukan karena bakat semata. Keahlian dalam menjalankan bisnis bisa diperoleh dengan berbagai cara, misalnya saja mengikuti pelatihan bisnis, seminar bisnis, atau membaca buku-buku dan majalah bisnis yang sekarang banyak beredar dipasaran. Asalkan ada tekad yang kuat, keahlian dan pedoman menjalankan bisnis dapat Anda kuasai dari proses belajar. Bukan hanya karena bakat dari dalam diri seseorang, karena orang berbakat pun tidak akan berhasil tanpa adanya latihan dan belajar.
5. Entrepreneur memiliki resiko usaha yang tinggi. Resiko usaha yang cukup tinggi, juga menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan orang. Banyak orang beralasan takut memulai usaha, karena resikonya cukup tinggi. Ketahuilah, bahwa segala sesuatu itu ada resikonya. Bukan hanya entrepreneur saja yang memiliki resiko tinggi. Menjadi seorang karyawanpun juga memiliki resiko tinggi, misalnya saja resiko terkena PHK. Jadi hilangkan segala ketakutan yang ada dalam diri Anda, dan cobalah untuk membuat peluang baru dari setiap resiko yang dimungkinkan terjadi. Sehingga langkah Anda tidak berhenti begitu saja, dan harus berani berkembang untuk menjadi entrepreneur sukses guna menghilangkan resiko yang Anda takutkan. Dari pembahasan diatas, Anda dapat mengetahui bahwa semua anggapan tersebut ternyata tidak benar. Dan yang paling penting adalah, sumber hambatan menjadi entrepreneur muncul karena adanya ketakutan Anda. Oleh karena itu, lawan rasa takut Anda dan mulailah menjadi seorang entrepreneur, untuk membuktikan bahwa semua sumber hambatan itu bisa diatasi. Semoga berhasil dan salam sukses. Sumber : bisnisukm.com
Sri Amperawati - Pengusaha Moci Asal Sukabumi
Baru beberapa tahun membuka usaha kue mochi, Sri Amperawati (44) atau yang akrab disapa Bu Sri menceritakan seputar kesuksesanya. Ya, produsen kue panganan yang terbuat dari tepung terigu ini mengaku meraih omzet jutaan rupiah dalam sehari. Pemasaran kuenya pun sampai ke Kuwait, Singapura dan Thailand. Laporan: Ujang Heryaman,-Sukabumi Sore itu itu tampak sebuah rumah industri kecil yang satu ruangan dengan tempat tinggalnya . Juga ada galeri yang dibangun sejak 2009 dan berada tepat di depan rumahnya di Jalan Bhayangkara gang Kaswari RT 02 RW 05 itu di desain dengan galeri mirip dengan toko kue pada umumnya, menjadi tempat penjualan Kue mochi. Meski, sampai sekarang tidak membuka cabang di manapun rumahnya untuk pembuatan berbagai jenis rasa mochi, di antara rasa kue tersebut, untuk rasanya juga bervariasi mulai rasa moka, cokelat, durian, dan keju wijen. Namun, tiap satu ikat kue moci isinya tiga dus dijual dengan harga Rp17.500 tergantung selera rasanya dan untuk rasa keju itu ia jual dengan Harga Rp20 ribu per iketnya. Berawal dari usaha yang diberikan pamanya, untuk menemukan hal yang baru untuk membikin kue asalnya namanya dari negara Jepang ini ia modifikasi dengan berbagai rasa, Sri (44) ini menceritakan kisahnya. Awalnya tidak terpikirkan untuk bisa menemukan ide baru, untuk meneruskan usaha yang digagas pamanya membuat usaha Kue ini yang berbeda dari yang lainya. kue tersebut dibuat bersama ke tujuh karyawanya dirumahnya di jalan Bhayangkara Kecamatan Cikole Kota Sukabumi , ketika itu Sri hanya awalnya hanya memproduksi 30 Kg bahan mochi.Ia buat dari tepung terigu, gula kacang ijo dan keju, di olah dengan menggunakan alat tradisional menggunakan peralatan rumah tangga seperti alat pengaduk kue. Sri pun mengakui karena pekerjaan sehari-harinya ia sebagai ibu rumah tangga. Ketika timbul niatnya untuk mencoba membikin usaha kue, iapun mencobanya dengan dibantu oleh pamanya yang lebih dulu membuat kue ini. Untuk pembuatan kue mochi berbagai rasa tergantung banyaknya bahan dan harganya pun berbeda. Jika rasanya hanya satu rasa bisa mengerjakan dengan cepat yaitu 1 hari. "Akan tetapi jika rasanya dikombinasikan dengan rasa yang lain dan jumlahnya banya bisa membikin sampai dua hari, " ungkapnya. Harga-harga kue cukup bervariasi mulai Rp 17.500 sampai Rp 20 ribu , tergantung rasanya. Dan untuk kue mochi rasa keju dengan balutan wijen juga ia membuanya. "Warna, dan rasanyapun beragam, ada yang berwarna merah muda, pink, dan hijau, " bebernya. Agar dapat memuaskan dan menarik para pembeli, membuat kue ini tersebut dengan berbagai model bungkus dan tempat ada dari dus, dan tas tenteng. Model tas tenteng itu untuk pesanan dua iket, jika mintapun para pelanggan pun diberikan tas itu. Untuk pembikinan setia 100 ikat kue, menggunakan bahan terigu, gula dan kacang ijo juga keju sampai beberapa Kg dan ditambah bahan baku lainya. Usaha tersebut diawali tahun 2009 sampai sekarang. Mengenai pemasaran mengaku sudah sampai ke berbagai Kota di indonesia dan sering mendapat pesanann dari negara Arab Saudi dan asia tenggara. Dengan modal awal Rp 1 juta. Modal tersebut dipergunakan untuk membeli bahan-bahan pembuatan baku kue, mulai dari tepung terigu, Tapioka, gula, keju dan yang lainya. Sesudah bahan-bahan baku terkumpul kemudian mencoba membuat kue yang berbeda dari kue yang lain. Untuk aroma rasa pandan, keju dan moka. Di Kota Sukabumi sendiri kini produk kuenyapun dipamerkan digalerinya dan dijual sekaligus dijual kepada para pelanggan. "Kami juga sering mengikuti pameran kuliner di berbagai Kota,"katanya . Banyak wisatawan domestik maupun lokal yang membeli kue mochi tersebut, bahkan pernah memesan sampai ratusan ikat dan dus. Jika pesanan lagi banyak dari luar kota, Sri mengaku omzetnya mencapai Rp3 juta sampai Rp 5 juta, dalam seminggu. Pengakuan Sri akan terus mengembangkan inovasi baru produk Kuenya agar tetap menarik hati para pelanggan baik dari Kota Sukabumi, maupun luar Kota Sukabumi."Untuk kualitas dan rasa yang bervariasi , dan banyak pesanan Sri berencana siap untuk mengeksportnya ke luar negeri,"pungkasnya.
Sumber : Radar Sukabumi
Langganan:
Postingan (Atom)








